BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motivasi adalah suatu kondisi
yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah serta ketahanan
(persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985). Motivasi
juga didefenisikan sebagai obsesi seseorang untuk melakukan sesuatu. Seseorang yang terobsesi terhadap sesuatu
akan menimbulkan perilaku tertentu, seperti semangat, senang, atau
bahagia. Berdasarkan
rumusan tersebut motif merupakan faktor dinamis, penyebab seseorang melakukan
perbuatan. Suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh sesuatu motif. Namun juga
bisa disebabkan oleh beberapa motif.
Motivasi dalam belajar
memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumberdaya Indonesia terutama kepada
siswa/siswi, mahasiswa dan generasi muda lainnya. Berdasarkan sudut pandangnya
motivasi belajar terbagi atas 2 macam, yaitu motivasi
yang berasal dari dalam pribadi seseorang, biasnya disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar
diri seseorang yang disebut ”motivasi ekstrinsik”. Setiap anak harus memiliki
motivasi belajar agar dapat tercapainya sesuatu yang diharapkan.
Dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat belajar siswa. Ini karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan
keinginan yang kuat, pastinya akan ditiup oleh angin kemalasan. Maka semangat untuk belajar harus dipelihara secara terus
menerus.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
penulisan ini adalah untuk mengetahu tahapa-tahapan menumbuhkan motivasi
belajar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Latin, movere yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai
kekuatan atau dorongan yang ada dalam diri sesorang untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi
saling berkaitan dengan faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor
internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Jadi motivasi
adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah
tujuan (Walgito, 2004). Selanjutnya menurut Plotnik (2005), motivasi mengacu pada berbagai faktor fisiologi dan
psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang
spesifik pada waktu tertentu. Pengertian
lainnya menurut Wlodkwsji (1985),motivasi adalah suatu
kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah
dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut
Aspek motivasi menurut
Walgito (2004), yaitu:
·
Keadaan yang mendorong dan
kesiapan bergerak dalam diri organisme
·
yang timbul karena kebutuhan
jasmani, keadaan lingkungan, keadaan mental (berpikiri dan ingatan).
·
Perilaku yang timbul dan
terarah karena keadaan tersebut.
·
Sasaran atau tujuan yang
dikejar oleh perilaku tersebut.
Ciri motivasi menurut Plotnik (2005), yaitu:
·
Anda terdorong berbuat atau melaksanakan
suatu kegiatan.
·
Anda langsung mengarahkan
energi anda, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
·
Anda mempunyai intensitas
perasaan-perasaan yang berbeda tentang pencapaian tujuan itu.
2.2 Pengertian Belajar
Belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja yang dapat
menimbulkan tingkah laku (baik actual/nyata maupun potensil/tidak tampak)
dimana perubahan yang dihasilkan tersebut bersifat positif dan berlaku dalam
waktu yang relatif lama.
A. Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Teori belajar behavioristik
adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi
aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai
akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Dengan kata lain, belajar
merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus
dan respon.
Menurut teori ini yang
terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output
yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon
dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang
juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya
respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan
semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement)
respon pun akan tetap dikuatkan.
Beberapa prinsip dalam teori
belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary
and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency
Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of
Responses (Gage, Berliner, 1984).
B. Teori-Teori Belajar Behavioristik
Tokoh-tokoh aliran behavioristik
di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis
serta peranannya dalam pembelajaran.
1. Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar
adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang
merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal
lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi
yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran,
perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan
belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit
yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang
utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum
kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal
tertentu dapat memperkuat respon.
2. Teori Conditioning Watson
Watson mendefinisikan belajar
sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon
yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun
dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama
proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak
perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang
behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
3. Teori Conditioning Edwin
Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama
adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu
gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang
sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus
dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena
gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada
respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil
belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang
baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam
kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar
hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga
percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses
belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini
adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus
dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak
boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
4. Teori Operant Conditioning
Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan
Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia
mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif.
Menurut Skinner hubungan antara
stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang
kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang
dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima
seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan
saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon
yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku
(Slavin, 2000).
Oleh karena itu dalam memahami
tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus
yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan
berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga
mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat
untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab
setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi.
5. Teori Systematic Behavior
Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan
variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian
belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi
Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat
terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull
mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive
reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan
manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu
dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin
dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini,
tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
C. Pengertian Belajar Menurut Teori Kogntivistik
Psikologi kognitif dianggap
sebagai perpaduan antara Psikologi Gestalt dan psikologi behaviorisme. Dari
sejarahnya diketahui bahwa perkembangan psikologi kognitif berawal dari
hijrahnya Kurt Lewin ke Amerika Serikat karena kejaran NAZI Jerman menjelang
Perang Dunia II. Di Amerika Serikat,dari universitas-universitas tempatnya
bekerja di Iowa dan Massachussets, Lewin menyebarkan teori-teori Gestalt yang
telah dikembangkannya menjadi teori lapangan.
Pengertian belajar menurut teori
kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Proses belajar akan berjalan dengan
baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur
kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Dengan kata lain teori belajar
ini mengemukakan konsep dimana seorang manusia yang memiliki otak dengan
dilengkapi akal pikirannya dapat diberikan kemampuan berpengetahuan dengan
pembiasaan menghapal dan mengingat apa yang harus diketahui.
Sehingga, keinginan
kognitivisme, bahwa manusia harus berpengetahuan, manakala diberikan
pengetahuan oleh orang lain dan harus dihapal agar pengetahuan itu bisa
dimiliki olehnya. Transformasi pengetahuan sering menjadi andalan dalam teori
belajar kognitivisme
D. Teori-Teori Belajar Kognitivistik
Menurut teori ini, belajar
adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak
selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori
ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam
dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif.
Menurut teori ini proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang
baru beradaptasi secara klop dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh
siswa.
Dalam perkembangan setidaknya
ada tiga teori belajar yang bertitik tolak dari teori kognitivisme ini yaitu:
Teori perkembangan piaget, teori kognitif Brunner dan Teori bermakna Ausubel.
Ketiga teori ini dijabarkan sebagai berikut:
Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap:
a.
Asimilasi
b.
Akomodasi
c.
Equilibrasi Proses belajar
lebih ditentukan oleh karena cara kita mengatur materi
a. pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur siswa
Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap:
·
Enaktif (aktivitas)
·
Ekonik (visual verbal)
·
Simbolik Proses belajar terjadi
jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan
pengetahuan baru
Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
a. Memperhatikan stimulus yang diberikan
b. Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang
sudah dipahami.
Prinsip kognitivisme banyak dipakai di dunia pendidikan, khususnya
terlihat pada perancangan suatu sistem instruksional, prinsip-prinsip tersebut
antara lain:
1.
Si belajar akan lebih mampu
mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan
pola dan logika tertentu
2.
Penyusunan materi pelajaran
harus dari sederhana ke kompleks
3.
Belajar dengan memahami akan
jauh lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian penyajian.
Ciri kegiatan belajar
1.
Belajar merupakan suatu
aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku, baik secara actual maupun
potensial, baik maupun buruk.
2.
Perubahan yang terjadi bersifat
positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama.
3.
Perubahan tersebut terjadi
karena adanya usaha (termasuk didalamnya latihan dan pengalaman). Perubahan
karena efek perkembangan dan kematangan tidak termasuk dalam proses belajar.
Faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar
• INTERNAL
Faktor yang berasal dari diri individu (sebagai input), meliputi:
a. Fisiologis, meliputi kondisi jasmani, fungsi alat indera, saraf
sentral, dan sebagainya.
b. Psikologis, meliputi minat, motivasi, emosi, inteligensi, bakat,
dsb.
• EKSTERNAL
Faktor diluar diri individu yang mempengaruhi proses belajar dan
hasil belajar, meliputi:
a.
Sosial/Lingkungan, yaitu pola
asuh keluarga, dukungan dari lingkungan disekitar individu, kehadiran seseorang
secara langsung ataupun representasinya. Misalnya, bila teringat orangtua maka
motivasi untuk menyelesaikan skripsi meningkat.
b.
Instrumental, meliputi alat
perlengkapan belajar, ruang belajar, ventilasi, penerangan, cuaca, materi yang
diberikan, peraturan-peraturan yang mengikat dalam proses belajar.
2.3 Macam-macam motivasi belajar
Dalam membahas macam-macam
motivasi belajar, ada dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari
dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi
yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
• Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri (2002:115)
motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak
memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu. Sejalan dengan pendapat diatas, dalam
artikelnya Siti Sumarni (2005) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik adalah
motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang. Sedangkan Sobry Sutikno (2007)
mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri
individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar
kemauan sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan, motivasi
intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang tanpa
memerlukan rangsangan dari luar.
• Motivasi Ekstrinsik
Menurut A.M. Sardiman (2005:90)
motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena
adanya perangsang dari luar. Sedangkan Rosjidan, et al (2001:51) menganggap
motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tujuan-tujuannya terletak diluar
pengetahuan, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. Sobry
Sutikno berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul
akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan
dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan
sesuatu. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan, motivasi ekstrinsik
adalah motivasi yang timbul dan berfungsi karena adanya pengaruh dari luar.
Cara belajar
Cara belajar otomatis tergantung
dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang
berbeda-beda. Pada dasarnya, cara Belajar terdiri dari tiga tipe,yaitu;
Visual: anak yang mempunyai cara
belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk
mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat
melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka
dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti
diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih
suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Auditori: anak yang mempunyai
cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi
verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna
makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan
berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai
makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini
biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan
mendengarkan_kaset.
Kinestetik: anak yang mempunyai
cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan.
Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka
untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat
2.4 Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar
1). Perubahan terjadi secara
sadar
Ini berarti bahwa seseorang yang
belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia
merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia
menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapanya bertambah, kebiasaanya
bertambah. Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam
keadaan tidak sadar, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar , karena
orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.
2). Perubahan dalam belajar
bersifat kontinu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan
yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan , tidak
statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan
akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya jika
seorang anak belajar menulis maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat
menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan
menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna.
3). Perubahan dalam belajar
bersifat Positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar,
perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh
Sesutu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha
belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.
Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan
sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya perubahan tingkah
laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan
dari dalam , tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.
4). Perubahan dalam belajar
bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena
proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku
yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang
anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja
melainkan akan terus dimiliki bahkan akan semakin berkembang kalau terus
dipergunakan atau dilatih.
5). Perubahan dalam belajar
bertujuan atau terarah
Ini berarti bahwa perubahan
tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar
terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya
seseorang yang belajar mengetik sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin
dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang akan
dicapainya.
6). Perubahan mencakup seluruh
aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh
seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan
tingkah laku. Jika seorang belajar Sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan,
pengetahuan, dan sebagainya.
2.5 Peran Guru dalam
Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi berpangkal dari kata
motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri
seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu
tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan
tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc.
Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi
itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling,
dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa
motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi
Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis
motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan
orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis
motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena
adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan
demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu
memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru.
Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik.
Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan
guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar
memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang
tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan
dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah
membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa
digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke
peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar
seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan
Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka
makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang
berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat
lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa
mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan
persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha
memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang
berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang
bersifat membangun.
5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa
yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan
dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu
motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada
anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan
memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar
yang baik.
8. Membantu kesulitan belajar
anak didik secara individual maupun kelompok.
9. Menggunakan metode yang
bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik
dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.