Pengaruh Faktor Oseanografi Dominan
Pada
Pembangunan Pelabuhan
(A. Rahantan)
PENDAHULUAN
Prasarana pelabuhan yang memadai sangat diperlukan guna mendukung sarana
angkutan laut, agar dapat melaksanakan segala bentuk kegiatannya maka pelabuhan
harus dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga dapat
berjalan lancar efektif dan efisien.
Perencanaan dan pengembangan
Pelabuhan harus diperhitungkan secara
matang dan seksama dengan memperhatikan banyak faktor dan aspek yang harus
menjadi pertimbangan. Salah satu faktor
yang sangat penting adalah faktor oseanografi karena hal tersebut tidak terlepas dengan masalah-masalah yang terjadi secara alami dan berlangsung terus menerus.
Menurut (Comick, 1957) dalam Saputro, 2002. Ditinjau dari penerapan
teknologi dan letak geografisnnya pelabuhan dapat di klasofikasikan sebagai
berikut :
1.
Pelabuhan
alam (Natural harbour)
Pelabuhan alam adalah suatu inlet atau area perairan yang terlindungi dari
angin ribu maupun gelombang secara alami, misaln adanya pulau, terkadang pemanfaatan alur
cukup mengikuti aliran pasang surut.
Alur masuk pelabuhan sudah berbentuk sebagaimana layaknya suatu
pelabuhan namun dibentuk oleh alam dan cukup tenang, yang biasanya ber lokasi
di teluk dan sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut di mulut sungai.
2.
Pelabuhan
semi alam (Semi Natural Harbour)
Pelabuhan semi alam adalah suatu
inlet perairan atau sungai dimana pada sisi kanan dan kiri alurnya terlindung
dari tanjung dan biasanya hanya memerlukan bagunan pelindung buatan dibagian
pintu masuk pelabuhan. Pelabuhan ini
selain sifatnya banyak ke pelabuhan alam.
3.
Pelabuhan
buatan (Artificial Harbour)
Pelabuhan buatan adalah suatu pelabuhan yang terlindung dari efek angin
ribut dan gelombang dengan cara membangun pemecah gelombang (break water) atau kolam pelabuhan
diciptakan dengan cara mengeruk perairan pantai.
Dari ketiga klasifikasi pelabuhan
tersebut ditinjau dari keadaan pantai sebagai daya dukung pelabuhan, maka
secara umum pelabuhan alam (natural harbour) adalah pelabuhan yang paling
menguntungkan karena pemeliharaan perairannya relative kecil.
Menurut (Triasuktmojo, 1996) pemilihan lokasi pembangunan pelabuhan
meliputi daerah pantai dan daratan tergantung oleh beberapa factor, yaitu :
1.
Kondisi
tanah dan geologi
Daerah daratan harus cukup luas untuk membangun fasilitas-fasilitas yang
dibutuhkan. Keadaaan dan kondisi tanah
untuk melakukan pengembangan
2.
Tinjauan
pelayaran
Pelabuhan harus memiliki kemudahan dalam alur pelayaran bagi kapal-kapal
yang akan menggunakannya.
3.
Tinjauan
sedimentasi
Pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang cukup. Pelabuhan harus dibuat sedemikian ruapa agar
sedimentasi yang terjadi seminimal mungkin.
Proses erosi dan sedimentasi tergantung pada sedimen dasar dan pengaruh
gelombang dan arus. Sedimen yang berdada
di sekitar pantai bisa berupa pasir atau sedimen tersuspensi yang berasal dari
sungai
4.
Gelombang
dan arus
Gelombang menimbulkan gaya-gaya yang bekerja kapal dan bangunan
pelabuhan. Untuk menghindari dari
gangguan gelombang maka dibuat bangunan pelindung seperti bangunan pemecah
gelombang.
5.
Kedalaman
air laut
Kedalaman laut sangat berpengaruh di daerah yang mengalami pasang surut
cukup besar. Untuk pelayaran,
kapal-kapal memerlukan kedalaman air yang aman, sehingga apabila ada kapal-kapal
besar yang ingin masuk ke pelabuhan dapat dilakukan pada saat kondisi air
pasang.
Oseanografi
adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth
sciences yang mempelajari laut, samudra beserta
isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak
samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4
(empat) bidang ilmu
utama yaitu: geologi
oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di
bawah laut; fisika
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang
surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi
yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir
biologi
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut.
LATAR
BELAKANG
Dari sisi potensi daerah, dengan
adanya pelabuhan perikanan akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan asli
daerah (PAD), yang pada beberapa lokasi di Indonesia, kabupaten dan kotanya
berbasis “coastal dan marine” yang akan menjadi salah satu tulang punggung
perekonomian daerah dimasa yang akan datang.
Tentunya kesempatan ini harus
dipersiapkan dengan suatu perencanaan yang matang, agar terlaksana dengan baik dan benar sehingga bermanfaat bagi masyarakat
luas.
Tujuan
Dalam makalah ini ditekankan
untuk mengetahui informasi tentang faktor-faktor
apa yang sangat mempengaruhi dalam hal pembangunan suatu pelabuhan ditinjau
dari aspek oseanografi, sehingga berguna sebagai acuan dasar bagi perencanaan
pembangunan atau pengembangan pelabuhan.
Manfaat
Agar Perencanaan dan pengembangan Pelabuhan dapat terlaksana dengan baik dan benar sehingga dapat dimanfaatkan dengan
baik oleh masyarakat luas secara berkesinambungan.
HIPOTESA
Faktor oseanografi sangat berpengaruh terhadap pembangunan pelabuhan maka harus
diperhatikan dengan baik dan benar dalam rencana pembangunan pelabuhan agar
dapat berfungsi tepat guna untuk kemaslahatan masyarakat secara efektif dan
berkesinambungan.
TINJAUAN PUSTAKA
Lebih lanjut
Pane, 2009 menyatakan bahwa faktor oceanografi sangat berpengaruh dalam
perencanaan pembangunan pelabuhan dan operasional pelabuhan. Dalam perencanaan perlu dilakukan survey
teknik dan lingkungan (studi awal, studi kelayakan, master plan, detail desain,
dan studi pembangunan). Sedangkan dalam
operasional harus memperhatikan perawatan dan perbaikan fasilitas termasuk
masalah yang ditimbulkan oleh sedimentasi.
Dua faktor oseanografi yang sangat
berperan dalam menganalisa proses sedimentasi yang terjadi di pantai, yaitu
faktor pasang surut dan arus laut. Kedua faktor tersebut merupakan gejala alam
yang saling berkaitan, selain itu faktor manusia baik langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi proses pantai (Raharjo, et.al. 2002).
Hasil
interaksi antara angin, gelombang, arus, pasang surut, sedimen dan fenomena
lain dari daerah pantai (littoral zone)
mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan, pergerakan, perkembangan di
daerah pantai yang bersangkutan. Erosi,
akresi, kestabilan pantai sangat tergantung dari perimbangan antara persediaan
material dan pengurangan material dari pantai (Saputro, 2002).
Pengikisan (erosi)
yang cepat akan membahayakan bagi kesempurnaan bagunan di pantai atau fungsi
kegunaan pantai itu sendiri atau terhadap bangunan-bangunan pantai. Oleh karenanya pengertian tentang proses
litoral dan volumenya adalah perlu untuk memprediksi efek dari proses erosi
maupun akresi di daerah pantai.
Sedimen
adalah partikel-partikel yang berasal dari bahan organik dan bukan organic yang
mengendap secara bebas di dasar laut. Material
sedimen yang berasal dari
daratan dibawa oleh sungai bersifat suspensi (suspended sediment), pada proses
pengendapannya dipengaruhi oleh kondisi pasang surut bersamaan dengan arus
sejajar pantai (longshore current).
Oleh sebab faktor oseanografi berguna untuk
mempelajari gejala sedimentasi yang terjadi untuk mengantisipasi daerah potensi
sedimentasi pada masa yang akan datang (Raharjo,
et.al. 2002).
Volume
terbesar dari sedimen yang berhasil diangkut ke laut oleh arus menyusur pantai
(longshore transport) adalah
disebabkan oleh gelombang pecah (breaking
waves) dekat pantai. Kekuatan arus
yang lemah memberikan komponen-komponen endapan yang halus sepanjang kulit bumi
di tepi pantai bahkan sampai ke laut dalam.
METODOLOGI PENELITIAN
Pengumpulan Data
Lingkup penelitian yang akan dikaji dalam dan kesempatan ini ialah kajian
yang meliputi pola hidrodinamika pelabuhan antara lain : Batimetri, arus,
pasang surut, gelombamng, dan sedimen.
· Pengamatan
Pasang Surut
Pengamatan
pasang surut dalam kegiatan ini
dilakukan di stasion pengamatan yang ditempatkan di Pelabuhan yang menjadi objek penelitian. Data
pengamatan pasang surut dipakai sebagai gambaran terhadap kondisi arus dan
koreksi terhadap kedalaman laut (batimetri)
· Pengamatan Gelombang.
Aksi dari gelombang adalah penyebab utama dari semua perubahan-perubahan
pantai yang menimbulkan masalah akibat Litoral
process.
· Pengamatan Arus
Untuk
mengetahui pergerakan massa air yang menyangkut arah dan kecepatan gerak massa
air yang tentunya membawa muatan sedimen maka pengamatan arus perlu dilakukan.
Metoda yang diterapkan adalah “Float Tracking Survey”.
·
Pengamatan Angin
Efek dari angin dapat menimbulkan arus permukaan. Angin yang menuju pantai dapat mengakibatkan
dasar pantai terkisis cukup signfikan.
Alat dan bahan
· GPS
· Transduser
· Echo sounder (batimetry)
· Grab (contoh sedimen)
· Palm otomatis (Automatic tide gauge) untuk mengukur tinggi gelombang
· Water sampler cylinder type (mengukur temperatur, suhu dan salinitas)
· Sedimen catcher (konsentrasi sedimen dan arah datang sedimen)
· Ayakan 100
mesh (laboratorium - sedimen)
· Spektrometer
gamma Ge(Li), (laboratorium - sedimen)
· SRM IAEA-315 (laboratorium - sedimen)
· Timbangan (laboratorium - sedimen)
· Motor boat.
Analisis Data
Analisis deskriptif akan
digunakan dalam pengolahan data dan infromasi yang diperoleh. Pada makalah ini beberapa
metoda yang dibahas tentunya berkaitan dengan proses dan pendekatan (estimasi) penghitungan kecepatan
sedimentasi, beberapa metoda tersebut antara lain gambaran tentang perubahan
garis pantai, hidro-oseanografi dan estimasi kecepatan sedimentasi secara
insitu (ditempat) dengan metoda penentuan umur sedimen berdasarkan unsur
radioaktif 210Pb.
Perubahan
Garis Pantai
Sebagai gambaran untuk mengetahui
perubahan garis pantai dilakukan penggabungan peta-peta dasar dengan digitasi
menggunakan GIS (Geographic Information System) hanya sebagai bahan
perbandingan awal untuk
mengetahui kondisi perubahan garis pantai tanpa menghitung secara region karena kemungkinan berbeda datum yang dipergunakan untuk menentukan titik nol garis pantai. Peta-peta tersebut meliputi peta topografi sebagai peta dasar kerja.
mengetahui kondisi perubahan garis pantai tanpa menghitung secara region karena kemungkinan berbeda datum yang dipergunakan untuk menentukan titik nol garis pantai. Peta-peta tersebut meliputi peta topografi sebagai peta dasar kerja.
Hidro-Oseanografi
Dua faktor oseanografi yang sangat
berperan dalam menganalisa proses sedimentasi yang terjadi di pantai, yaitu
faktor pasang surut dan arus laut. Kedua faktor tersebut merupakan gejala alam
yang saling berkaitan, selain itu faktor manusia baik langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi proses pantai. Untuk maksud tersebut dilakukan
beberapa analisis yaitu pasut dan arus.
· Hydrografi
Analisis
paling awal dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran langsung faktor
hydrografi yang dilakukan dengan program HYPACK yang diintegrasikan ke dalam
program WINDOWS 95, sekaligus mereduksinya terhadap data pasang surut, sehingga
gambar yang dihasilkan berupa kedalaman sesuai muka surutan yang ditentukan,
sekaligus membuat kontur yang dipetakan.
· Sedimen
Metoda analisis untuk menentukan
laju sedimentasi menggunakan penentuan umur absolut sedimen berdasarkan dating
210Pb diperlukan beberapa peralatan laboratorium antara lain ; ayakan 100 mesh,
spektrometer gamma Ge(Li), SRM IAEA-315, dan timbangan. Tata kerja yang
dilakukan untuk analisis yaitu sedimen dikeluarkan dari PVC dengan mendorongnya
keluar dan setiap 2 cm dipotong menggunakan pleksiglas, bagian tepi diambil
disingkirkan dan bagian tengah dimasukkan dalam kontainer untuk ditentukan
aktivitas 210Pb, selanjutnya sedimen dikeringkan, dihaluskan, diayak lolos 100
mesh, dihomogenkan, kemudian dicacah menggunakan spektrometer gamma. Untuk
mengetahui umur dari sedimen berdasarkan kandungan 210Pb maka Rumus perhitungan
adalah sebagai berikut :
Co/Cs = e- λt
Co = kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
Co = kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
sedimen permukaan undisturbed.
Cs = kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
Cs = kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
sedimen pada kedalaman tertentu.
λ = tetapan (0.693/waktuparo 210Pb = 0.693/22.26)
t = umur sedimen dalam tahun
Bila 210Pb supported > 210 Pb total berarti umurnya > 150 tahun
λ = tetapan (0.693/waktuparo 210Pb = 0.693/22.26)
t = umur sedimen dalam tahun
Bila 210Pb supported > 210 Pb total berarti umurnya > 150 tahun
DAFTAR PUSTAKA
http://www.mgi.esdm.go.id/content/
estimasi – kecepatan – sedimentasi – di – perairan – astanajapura – kabupaten –
cirebon - jawa-barat. 16
November 16November 2009. 11.00 WIB.
Raharjo, P. dan
Faturachman, A.
2002 Estimasi Kecepatan Sedimentasi Di Perairan
Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Pane, A. B. 2009. Diktat Kuliah Pasca Sarjana, PSP, FPIK, IPB - Bogor
Saputro, S. 2002. Simulasi Transport Sedimen dan Hubungannya dengan
Pengelolaan Pelabuhan Dumai. Tesis Pasca Sarjana. IPB Bogor.
Kramadibrata,
S. 1985. Perencanaan Pelabuhan. Ganesa Exact Bandung. Bandung.
Triatmojo,
B. 1996. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta.
No comments:
Post a Comment
Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. komentar yang mengarah ke tindakan spam akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter