Tuesday, 17 January 2017

Pengaruh faktor oseanografi pada pembangunan pelabuhan



Pengaruh Faktor Oseanografi Dominan 
Pada Pembangunan Pelabuhan
(A. Rahantan)

PENDAHULUAN
Pelabuhan sekarang ini berkembang sangat pesat sesuai dengan kebutuhan, dimana keberadaannya sangat dibutuhkan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal untuk melakukan berbagai macam aktivitas yang terlindung dari gangguan laut agar dapat berlangsung dengan baik dan lancar (Kramadibrata, 1985). 
Prasarana pelabuhan yang memadai sangat diperlukan guna mendukung sarana angkutan laut, agar dapat melaksanakan segala bentuk kegiatannya maka pelabuhan harus dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga dapat berjalan lancar efektif dan efisien.
Perencanaan dan pengembangan Pelabuhan harus diperhitungkan secara matang dan seksama dengan memperhatikan banyak faktor dan aspek yang harus menjadi pertimbangan.  Salah satu faktor yang sangat penting adalah faktor oseanografi karena hal tersebut tidak terlepas dengan masalah-masalah yang terjadi secara alami dan berlangsung terus menerus.
Menurut (Comick, 1957) dalam Saputro, 2002. Ditinjau dari penerapan teknologi dan letak geografisnnya pelabuhan dapat di klasofikasikan sebagai berikut :
1.        Pelabuhan alam (Natural harbour)
Pelabuhan alam adalah suatu inlet atau area perairan yang terlindungi dari angin ribu maupun gelombang secara alami, misaln  adanya pulau, terkadang pemanfaatan alur cukup mengikuti aliran pasang surut.  Alur masuk pelabuhan sudah berbentuk sebagaimana layaknya suatu pelabuhan namun dibentuk oleh alam dan cukup tenang, yang biasanya ber lokasi di teluk dan sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut di mulut sungai.
2.        Pelabuhan semi alam (Semi Natural Harbour)
Pelabuhan semi alam adalah  suatu inlet perairan atau sungai dimana pada sisi kanan dan kiri alurnya terlindung dari tanjung dan biasanya hanya memerlukan bagunan pelindung buatan dibagian pintu masuk pelabuhan.  Pelabuhan ini selain sifatnya banyak ke pelabuhan alam.
3.        Pelabuhan buatan (Artificial Harbour)
Pelabuhan buatan adalah suatu pelabuhan yang terlindung dari efek angin ribut dan gelombang dengan cara membangun pemecah gelombang (break water) atau kolam pelabuhan diciptakan dengan cara mengeruk perairan pantai.
     Dari ketiga klasifikasi pelabuhan tersebut ditinjau dari keadaan pantai sebagai daya dukung pelabuhan, maka secara umum pelabuhan alam (natural harbour) adalah pelabuhan yang paling menguntungkan karena pemeliharaan perairannya relative kecil.
Menurut (Triasuktmojo, 1996) pemilihan lokasi pembangunan pelabuhan meliputi daerah pantai dan daratan tergantung oleh beberapa factor, yaitu :
1.        Kondisi tanah dan geologi
Daerah daratan harus cukup luas untuk membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan.  Keadaaan dan kondisi tanah untuk melakukan pengembangan
2.        Tinjauan pelayaran
Pelabuhan harus memiliki kemudahan dalam alur pelayaran bagi kapal-kapal yang akan menggunakannya.
3.        Tinjauan sedimentasi
Pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang cukup.  Pelabuhan harus dibuat sedemikian ruapa agar sedimentasi yang terjadi seminimal mungkin.  Proses erosi dan sedimentasi tergantung pada sedimen dasar dan pengaruh gelombang dan arus.  Sedimen yang berdada di sekitar pantai bisa berupa pasir atau sedimen tersuspensi yang berasal dari sungai
4.        Gelombang dan arus
Gelombang menimbulkan gaya-gaya yang bekerja kapal dan bangunan pelabuhan.  Untuk menghindari dari gangguan gelombang maka dibuat bangunan pelindung seperti bangunan pemecah gelombang.
5.        Kedalaman air laut
Kedalaman laut sangat berpengaruh di daerah yang mengalami pasang surut cukup besar.  Untuk pelayaran, kapal-kapal memerlukan kedalaman air yang aman, sehingga apabila ada kapal-kapal besar yang ingin masuk ke pelabuhan dapat dilakukan pada saat kondisi air pasang.
Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut, samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut.


LATAR BELAKANG
Kegiatan perikanan dari tahun ke tahun terus berkembang, dan pada saat ini banyak terdapat pembangunan pelabuhan untuk menunjang kegiatan perikanan tersebut yang dilakukan dengan kurang baik dan terkesan asal jadi, sehingga manfaatnya kurang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Dari sisi potensi daerah, dengan adanya pelabuhan perikanan akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah (PAD), yang pada beberapa lokasi di Indonesia, kabupaten dan kotanya berbasis “coastal dan marine” yang akan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah dimasa yang akan datang.
Tentunya kesempatan ini harus dipersiapkan dengan suatu perencanaan yang matang, agar terlaksana dengan baik dan benar sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tujuan
Dalam makalah ini ditekankan untuk mengetahui informasi tentang faktor-faktor apa yang sangat mempengaruhi dalam hal pembangunan suatu pelabuhan ditinjau dari aspek oseanografi, sehingga berguna sebagai acuan dasar bagi perencanaan pembangunan atau pengembangan pelabuhan.

Manfaat
Agar Perencanaan dan pengembangan Pelabuhan dapat terlaksana dengan baik dan benar sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat luas secara berkesinambungan.
HIPOTESA
Faktor oseanografi sangat berpengaruh terhadap pembangunan pelabuhan maka harus diperhatikan dengan baik dan benar dalam rencana pembangunan pelabuhan agar dapat berfungsi tepat guna untuk kemaslahatan masyarakat secara efektif dan berkesinambungan.

TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Pane, 2009.  Dampak oceanografi dibagi menjadi tiga faktor yaitu; 1. Fisika yang terdiri dari komponen gelombang, arus, angin, pasang surut dan kedalaman yang dapat mengakibatkan kerusakan fisik seperti dermaga, kolam pelabuhan, bangunan-bangunan dan sedimentasi yang dapat mengganggu alur pelayaran dan kolam pelabuhan.  2. Kimia seperti salinitas, kecerahan, kekeruhan dan pencemaran yang dapat menyebabkan kerusakan peralatan kerja seperti korosi. 3. Biologi seperti hewan laut, tumbuhan laut, habitat organisme laut, kesuburan perairan yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Lebih lanjut Pane, 2009 menyatakan bahwa faktor oceanografi sangat berpengaruh dalam perencanaan pembangunan pelabuhan dan operasional pelabuhan.  Dalam perencanaan perlu dilakukan survey teknik dan lingkungan (studi awal, studi kelayakan, master plan, detail desain, dan studi pembangunan).  Sedangkan dalam operasional harus memperhatikan perawatan dan perbaikan fasilitas termasuk masalah yang ditimbulkan oleh sedimentasi.
Dua faktor oseanografi yang sangat berperan dalam menganalisa proses sedimentasi yang terjadi di pantai, yaitu faktor pasang surut dan arus laut. Kedua faktor tersebut merupakan gejala alam yang saling berkaitan, selain itu faktor manusia baik langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pantai (Raharjo, et.al. 2002).
Hasil interaksi antara angin, gelombang, arus, pasang surut, sedimen dan fenomena lain dari daerah pantai (littoral zone) mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan, pergerakan, perkembangan di daerah pantai yang bersangkutan.  Erosi, akresi, kestabilan pantai sangat tergantung dari perimbangan antara persediaan material dan pengurangan material dari pantai (Saputro, 2002).
Pengikisan (erosi) yang cepat akan membahayakan bagi kesempurnaan bagunan di pantai atau fungsi kegunaan pantai itu sendiri atau terhadap bangunan-bangunan pantai.  Oleh karenanya pengertian tentang proses litoral dan volumenya adalah perlu untuk memprediksi efek dari proses erosi maupun akresi di daerah pantai.
Sedimen adalah partikel-partikel yang berasal dari bahan organik dan bukan organic yang mengendap secara bebas di dasar laut.  Material sedimen yang berasal dari daratan dibawa oleh sungai bersifat suspensi (suspended sediment), pada proses pengendapannya dipengaruhi oleh kondisi pasang surut bersamaan dengan arus sejajar pantai (longshore current). Oleh sebab faktor oseanografi berguna untuk mempelajari gejala sedimentasi yang terjadi untuk mengantisipasi daerah potensi sedimentasi pada masa yang akan datang (Raharjo, et.al. 2002).
Volume terbesar dari sedimen yang berhasil diangkut ke laut oleh arus menyusur pantai (longshore transport) adalah disebabkan oleh gelombang pecah (breaking waves) dekat pantai.  Kekuatan arus yang lemah memberikan komponen-komponen endapan yang halus sepanjang kulit bumi di tepi pantai bahkan sampai ke laut dalam.

METODOLOGI PENELITIAN
Pengumpulan Data
Pengumpulan data direncanakan pada September sampai Desember 2010, dilakukan secara langsung melakukan pengukuran di lapangan (Pelabuhanratu) dan desk studi sebagai data pembanding dengan merefer dari berbagai sumber bacaan baik berupa buku, jurnal dan media elektronik.  Data yang dikumpulkan berupa informasi mengenai faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pembangunan pelabuhan ditinjau dari aspek oseanografi.
Lingkup penelitian yang akan dikaji dalam dan kesempatan ini ialah kajian yang meliputi pola hidrodinamika pelabuhan antara lain : Batimetri, arus, pasang surut, gelombamng, dan sedimen.
·      Pengamatan Pasang Surut
Pengamatan pasang surut dalam kegiatan ini dilakukan di stasion pengamatan yang ditempatkan di Pelabuhan yang menjadi objek penelitian.  Data pengamatan pasang surut dipakai sebagai gambaran terhadap kondisi arus dan koreksi terhadap kedalaman laut (batimetri)

·      Pengamatan Gelombang.
Aksi dari gelombang adalah penyebab utama dari semua perubahan-perubahan pantai yang menimbulkan masalah akibat Litoral process.

·      Pengamatan Arus
Untuk mengetahui pergerakan massa air yang menyangkut arah dan kecepatan gerak massa air yang tentunya membawa muatan sedimen maka pengamatan arus perlu dilakukan. Metoda yang diterapkan adalah “Float Tracking Survey”.

·      Pengamatan Angin
Efek dari angin dapat menimbulkan arus permukaan.  Angin yang menuju pantai dapat mengakibatkan dasar pantai terkisis cukup signfikan.

Alat dan bahan
·      GPS
·      Transduser
·      Echo sounder (batimetry)
·      Grab (contoh sedimen)
·      Palm otomatis (Automatic tide gauge) untuk mengukur tinggi gelombang
·      Water sampler cylinder type (mengukur temperatur, suhu dan salinitas)
·      Sedimen catcher (konsentrasi sedimen dan arah datang sedimen)
·      Ayakan 100 mesh (laboratorium - sedimen)
·      Spektrometer gamma Ge(Li), (laboratorium - sedimen)
·      SRM IAEA-315 (laboratorium - sedimen)
·      Timbangan (laboratorium - sedimen)
·      Motor boat.

Analisis Data

Analisis deskriptif akan digunakan dalam pengolahan data dan infromasi yang diperoleh.  Pada makalah ini beberapa metoda yang dibahas tentunya berkaitan dengan proses dan pendekatan (estimasi) penghitungan kecepatan sedimentasi, beberapa metoda tersebut antara lain gambaran tentang perubahan garis pantai, hidro-oseanografi dan estimasi kecepatan sedimentasi secara insitu (ditempat) dengan metoda penentuan umur sedimen berdasarkan unsur radioaktif 210Pb.

Perubahan Garis Pantai
Sebagai gambaran untuk mengetahui perubahan garis pantai dilakukan penggabungan peta-peta dasar dengan digitasi menggunakan GIS (Geographic Information System) hanya sebagai bahan perbandingan awal untuk
mengetahui kondisi perubahan garis pantai tanpa menghitung secara region karena kemungkinan berbeda datum yang dipergunakan untuk menentukan titik nol garis pantai. Peta-peta tersebut meliputi peta topografi sebagai peta dasar kerja.

Hidro-Oseanografi
Dua faktor oseanografi yang sangat berperan dalam menganalisa proses sedimentasi yang terjadi di pantai, yaitu faktor pasang surut dan arus laut. Kedua faktor tersebut merupakan gejala alam yang saling berkaitan, selain itu faktor manusia baik langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pantai. Untuk maksud tersebut dilakukan beberapa analisis yaitu pasut dan arus.

·      Hydrografi
Analisis paling awal dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran langsung faktor hydrografi yang dilakukan dengan program HYPACK yang diintegrasikan ke dalam program WINDOWS 95, sekaligus mereduksinya terhadap data pasang surut, sehingga gambar yang dihasilkan berupa kedalaman sesuai muka surutan yang ditentukan, sekaligus membuat kontur yang dipetakan.

·      Sedimen
Metoda analisis untuk menentukan laju sedimentasi menggunakan penentuan umur absolut sedimen berdasarkan dating 210Pb diperlukan beberapa peralatan laboratorium antara lain ; ayakan 100 mesh, spektrometer gamma Ge(Li), SRM IAEA-315, dan timbangan. Tata kerja yang dilakukan untuk analisis yaitu sedimen dikeluarkan dari PVC dengan mendorongnya keluar dan setiap 2 cm dipotong menggunakan pleksiglas, bagian tepi diambil disingkirkan dan bagian tengah dimasukkan dalam kontainer untuk ditentukan aktivitas 210Pb, selanjutnya sedimen dikeringkan, dihaluskan, diayak lolos 100 mesh, dihomogenkan, kemudian dicacah menggunakan spektrometer gamma. Untuk mengetahui umur dari sedimen berdasarkan kandungan 210Pb maka Rumus perhitungan adalah sebagai berikut :

Co/Cs = e- λt
Co
      =  kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
                sedimen permukaan undisturbed.
Cs
       =  kandungan 210Pb unsupported (210Pb total – 210Pb supported) pada
                sedimen pada kedalaman tertentu.
λ
         =  tetapan (0.693/waktuparo 210Pb = 0.693/22.26)
t
          =  umur sedimen dalam tahun
              Bila 210Pb supported > 210 Pb total berarti umurnya > 150 tahun


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Oseanografi.  16 November 2009. 11.00 WIB


Raharjo, P. dan Faturachman, A. 2002  Estimasi Kecepatan Sedimentasi Di Perairan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.

Pane, A. B. 2009. Diktat Kuliah Pasca Sarjana, PSP, FPIK, IPB - Bogor

Saputro, S. 2002. Simulasi Transport Sedimen dan Hubungannya dengan Pengelolaan Pelabuhan Dumai. Tesis Pasca Sarjana. IPB Bogor.

Kramadibrata, S. 1985. Perencanaan Pelabuhan. Ganesa Exact Bandung. Bandung.

Triatmojo, B. 1996. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta.


No comments:

Post a Comment

Tolong komentarnya berhubungan dengan artikel yang ada. komentar yang mengarah ke tindakan spam akan dihapus atau terjaring secara otomatis oleh spam filter